Kawan,
Sejak beberapa tahun yang lalu aku bertemu denganmu. Tiada hari berlalu tanpa canda dan tawa. Kadang bingung merundung. Atau kesal terhadap sikapmu. Namun kali ini … maaf, aku bosan dengan semuanya.
Sebuah pernyataan yang menyakitkan timbul hanya dari friksi perspektif kita. Kamu tahu sekarang kalau aku bukanlah seorang yang loyal terhadapmu dan kawan-kawanmu. Kamu sadar ga sih, tidak ada yang 100% LOYAL di dunia ini selain kepada penciptanya!
Hear me: I trust no one but myself and Alloh SWT.
Mungkin kau pun sama. Saat ini kau loyal terhadap kawan-kawanmu. Tapi bagaimana ketika esok hari? Ketika kawan-kawanmu meninggalkanmu sendiri dalam sepi? Dan kamu tiada teman yang berarti. Kecuali harta dan bekas-bekas kejayaanmu. Apa kau masih loyal kawan?
Maaf kawan, aku bukanlah domba yang bisa kau giring semaumu. Atau anjing yang mesti menggonggong keras dan terbelenggu oleh paradigmamu.
Aku manusia! Aku punya keinginan!
Aku punya permasalahan!
Biarkan aku bermain bersama waktu dalam kesendirian.
Tinggalkan aku kawan… lepaskan aku!
Biar kuselesaikan permasalahan yang kumulai. Biar aku sendiri yang cari semua solusi. Usah kau tambah minyak ke dalam api.
Kawan,
Aku punya prinsip untuk selalu memasukkan Macan ke dalam taman kehidupanku. Kenapa? Karena aku haus tantangan. Aku ingin kamu tahu diriku sungguh muak dengan segala Comfort Zone yang selalu kau gaungkan.
“jangan bermain api, nanti kau terbakar!â€, “jangan ceroboh nanti kau celaka!â€, “jangan terbang terlalu tinggi nanti jatuhnya sakit!â€, … dan sejuta kata “jangan…†yang selalu kau ucapkan di telingaku.
Memang baik untuk selalu bermain aman. Tetapi tau ga kawan. Hidup ini adalah RESIKO! Aku tak pernah memilih untuk dilahirkan ke dunia. Kau pun sama kawan.
Aku tak pernah memilih untuk punya warna kulit apa, dilahirkan dimana, jenis kelaminku apa… kaupun juga sama kawan.
Karenanya hidup ini adalah resiko. Dengar kawan: Tidak pernah sedikitpun aku merasa terjamin dengan keberadaan dirimu!
Tau ga siapa yang menjaminku? Dialah Alloh SWT penciptaku…
Kawan,
Sebagai seorang teman. Aku cuma ingin sampaikan ini. Karena aku prihatin denganmu. Semua paradigmamu terracuni kawan-kawanmu disana. Akuilah! Kamu ‘merasa’ bahagia, padahal tidak. Kamu merasa sebagai pahlawan, padahal kamu adalah pecundang.
Kamu merasa bahagia jika sudah menjatuhkan orang lain melalui sikap penjilatmu. Atau kau bersikap seolah-olah semua orang butuh kamu. Dan tanpamu semua itu tidak berarti.
Sorry kawan, life’s go on! Masih ada banyak hal akbar yang mesti aku urusi. Hal remeh temeh kaya gitu udah bukan urusan gwa. Itu urusan orang kebanyakan.
Aku ambil jalan ini karena aku ingin jalani semua dengan lebih berarti. Aku tidak takut diterkam macan. Karena macan itu adalah sebabku sendiri. Aku membuat masalah ini untuk menjadikan hidupku lebih berarti. Karena keberanian terbesar dari seorang insan adalah mengalahkan ketakutannya serta mengakui sebuah kekuatan dibalik kekuatan untuk berani tersebut. Aku menyukai Chaos Zone, agar dapat mencapai level paradigma objektif. Sebuah level yang kaupun kini sangat tidak suka.
Itulah, sangat disayangkan dirimu yang sudah penuh pengalaman mesti terpengaruh paradigma subyektif kawan-kawanmu disana.
Padahal tau ga kawan. Di dunia ini akan selalu ada Hidden Agenda dari setiap reaction yang ada. Ada sebuah sebab dari seluruh akibat. Kamu sendiri pun tanpa sadar telah terjebak kedalamnya. Akuilah!
Kawan,
Terakhir aku hanya titip pesan padamu. Tuk selalu berfikir melingkar. Fikirkan apa yang ada dibenakku saat ini. Dan kontradiksinya denganmu. Lalu … nikmatilah!
Karena dalam waktu yang tidak lama lagi. Aku pasti akan temukan beberapa kawan-kawan baru lagi. Yang jauh lebih baik darimu. Yang benar-benar bisa membantuku menjadi seorang manusia, bukan seorang ‘manusia’.
Mohon maaf jika hal sarkastis mesti tertulis dalam suratku ini. Aku hanya ingin jujur padamu. Karena lebih baik jujur daripada berbohong. Karena Alloh SWT maha Tahu Segalanya.
Terima kasih sudah membaca suratku kawan. Telah menjadi kawanku selama ini. Hal itu semata karena aku adalah dirimu…]
–Ingsun Ksatreni Jagad–